"Ruang Hati Tuk Menumpahkan Segenap Rasa"

Indahnya Berbagi

Manusia terlahir sebagai makhluk yang memiliki fungsi sosial. Sedikit ataupun banyak waktu yang kita punya digunakan untuk berinteraksi dengan makhluk lainnya (manusia, hewan dan juga alam). Interaksi yang terjadi tersebut menghasilkan sesuatu yang kita sebut dengan "berbagi" baik secara langsung maupun tidak langsung..

Berbagi bisa bermacam-macam bentuknya, entah itu riil (tempat, harta) ataupun abstrak ( pemikiran, waktu). Ada satu pengalaman yang cukup menyentuh ketika saya pulang ke Purwokerto. Saya sedang berkunjung ketempat seorang sahabat yang tempatnya cukup jauh dari keramaian kota. Saat itu sahabat saya sedang memanen hasil kebun yang ia tanam yaitu jagung. Sejak dahulu hasil panen di desa ini memang selalu bagus, sehingga saya bertanya mengenai jagung yang ia tanam :

Saya : "Panenmu kok selalu bagus tho dari dulu, padahal waktu nanam dan cara tanamnya sama kaya yang lain?"

Sahabat : "Ga tau juga yah..., mungkin karena semua warga disini nanam bibit yang bagus semua"

Saya : "Yakin semua bagus? Ko bisa tau"

Sahabat : "Ya taulah, bibit jagung yang ditanam semua warga disini kan sama semua."

Saya : "Maksudnya?"

Sahabat : "Kalau ada yang punya bibit bagus warga disini akan menbagikannya buat tetangga-tetangga."

Saya : "Loh kenapa ga dipake sendiri aja bibitnya?"

Sahabat : " Ga boleh egois gitu, lagian kalau ada warga nanam bibit jelek yang susah kita juga. Kalau nanti pas berbunga kan kita tidak tau serbuk sari yang nempel dibunga itu dari mana, bisa saja dari kebun tetangga yang terbawa oleh angin. Nah kalau semua warga nanam bibit yang bagus kan ga usah khawatir serbuk sari yang nempel di bunga itu berasal dari mana."

Saya : "Ow..gitu tho..."

Subahanllah..., ternyata alampun mengajarkan kepada kita untuk berbagi. Berbagi memang tak ada ruginya, sekecil apapun itu asal membawa manfaat akan lebih baik dari pada tidak sama sekali bukan...

Spirit Of 1928

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

81 tahun yang lalu putra - putri bangsa ini mendeklarasikan untaian kalimat yang sarat dengan makna dan nasionalisme yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan "Sumpah Pemuda". Untaian kalimat yang begitu indah menurut saya, didalamnya terkandung semangat membara dan kebanggaan terlahir sebagai bangsa Indonesia.

Setelah sekian puluh tahun berlalu apakah semangat dan nasionalisme itu masih ada? Hal ini yang perlu kita pertanyakan sebagai anak bangsa. Suka / tidak karena disebabkan oleh berbagai faktor yang ada ternyata semangat "Sumpah Pemuda" sudah semakin luntur, setidaknya itu yang saya rasakan. Tidak perlu mengambil contoh yang terlalu jauh dan aneh-aneh, saya sendiri (entah sedikit atau banyak) telah kehilangan semangat yang terkandung dalam deklarasi "Sumpah Pemuda". Contoh yang sering terjadi adalah ketika saya batal / tidak jadi membeli suatu produk dalam negeri yang notabene lebih murah dan memiliki kualitas sama (bahkan tak jarang lebih bagus) hanya untuk sebuah gengsi... 

Tidak sedikit pula putra-putri terbaik bangsa yang diberangkatkan pemerintah untuk menimba ilmu dan pengalaman di negeri lain justru tak lagi kembali ke tanah air untuk membangun bangsa seusai masa belajarnya selesai. Memang ada banyak alasan mengapa terjadi demikian, tapi yang jelas mereka diberangkatkan menggunakan uang rakyat bukan...?  

Butuh usaha yang keras dan kerjasama dari semua unsur bangsa untuk bisa kembali memiliki jiwa dan semangat tahun 1928. Bagi saya pribadi tak perlu berpikir yang muluk-muluk, memupuk kembali jiwa nasionalisme bisa dimulai dari pribadi masing-masing (jika didukung oleh pihak lain tentunya lebih baik). Mari kita kobarkan kembali semangat "Sumpah Pemuda"...!!!

Rebuild Dan Konsolidasi Hati

Judul diatas terinspirasi dari kejadian yang ada hubungannya dengan salah satu kesukaan saya (halah to..bilang aja hobby) yaitu games. Dalam dunia game yang sering saya mainkan (game online bernuansa perang), seringkali dua kubu berperang baik secara gerilya maupun open war untuk suatu tujuan tertentu. Bukan point peperangan itu yang menginspirasi saya tetapi justru kejadian setelahnya.

Setiap peperangan pastilah ada satu pihak yang mengalami kekalahan entah dalam waktu yang singkat maupun lama. Yang membuat saya salut adalah pihak yang kalah akan menerima kekalahan mereka meski diliputi rasa kecewa dan kemudian melakukan rebuild clan / kelompoknya untuk kembali menata kekuatan dan kekompakan mereka. Hal inilah yang menginspirasi saya....

Kita sebagai manusia tak luput dari yang namanya kegagalan, entah gagal dalam mencapai cita-cita ataupun hal lainnya. Kadangkala kita sebagai manusia merasa berat untuk menerima kegagalan tersebut yang justru semakin menjerumuskan diri kita dalam keterpurukan. Alangkah baiknya jika bisa menerima bentuk kegagalan itu secara ikhlas dan kemudian intospeksi diri untuk kemudian memperbaiki kesalahan yang ada. Setelahnya kita bangkit lagi untuk mencapai cita-cita / tujuan hidup kita...*ah Toto ngomong doang nie... ngomong sih gampang tapi prakteknya itu loh yang susah*  .

Emang sih..., ngelakuinnya ga semudah kita ngomong. Tapi semasih ada niat pasti bisa kan..? Hidup kita memang sebuah pembelajaran bukan? Dari lahir hingga akhir hayat kita, berisi proses pembelajaran yang dipersiapkan sang pencipta untuk kita makhluknya. So, yang namanya belajar pastilah dihiasi dengan kesalahan-kesalahan dan itu sangat wajar. Tinggal bagaimana kita mensikapi kesalahan-kesalahan itu dan menjadikannya sebagai faktor yang membangun dalam hidup kita....

Syndicate content